s

Jumat, 11 April 2014

Sujud Dikepala Mahameru

Ranukumbolo tak bosan aku senyum melepas dahaga disitu. Tanjakan cinta tak kugubris mitosnya. Oro-oro ombo menyuguhkan tari rerumput lavender. Kalimati menyulut gumam pesimis dengan mempertontonkan puncak para dewa. Ganas Arcopodo hanya pemanasan. Perjuangan sebenarnya dimulai dari batas vegetasi hijau dan abu-abu. Pasir diinjak seakan menolak kaki menapaki meter selanjutnya. Yang ada hanya lelah, putus asa, tekad, doa , dan harmoni semangat tawa teman kita. 26 agustus itu aku lunglai sujud menangis deras di hamparan pasir vulkanik mahameru tanah tertinggi jawa. Tak ada riuh yang memberi sambut selamat. Hanya lari kencang angin, wedus gembel jonggring saloko. senyap. Rasanya dada lapang berdiri di atas samudra awan. Mulut jarang berucap Serasa hina dihadapan tuhan .

sedikit rangkaian imaji menjadi sebuah sinematografi saat di semeru
http://www.youtube.com/watch?v=UOUM-arpx9A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar