Artikel ini aku buat sedemikian rupa dari pengalaman pribadi , tanpa copy paste dari blog lain, dan tanpa cerita yang mengada-ada
Gunung adalah destinasi para pendaki , untuk sekedar camp ceria , melepas penat dari kehidupan kota , atau candu bagi para orang yang tiba-tiba jatuh cinta pada pendakian pertamanya .Entah kita percaya atau tidak yang namanya lelembut nyata keberadaannya , mungkin ada sebagian orang yang tidak percaya , namun dulu aku juga tidak percaya dengan "mereka".
klimaks dari sebuah keadaan yang mencekam dan benar2 membuat aku menjadi sadar bahwa mereka ada saat kami nge-trip ke arjuno tahun 2013.
aku berangkat dari surabaya ber 8 yang terdiri dari aku sendiri, kakakku habibi, partner setia dalam pendakian dari teman kelas fakultas hukum upn jatim heru, lalu teman2 dari scene death metal mortalium yaitu febri, nizar, ivan, yayak, serta mahasiswa stie perbanas farizlintang
Perjalanan kami dimulai 3 hari sebelum malam 1 suro, kami ber-8 berangkat via tretes , aku juga tak menghiraukan kata orang jawa kalo "malem 1 suro iku wayae demit metu kabeh" . Sebuah hal yang tak masuk dilogika , sebuah statement yang membuat kita merasa dibodohi oleh cerita turun-temurun yang belum tentu terjadi.
waktu menunjukkan 00.30 saat kami mulai trekking , di trek makadam yang full tanjakan dan tanpa bonus . Saat setelah melewati pet bocor , naik keatas , melewati sebuah pos yang berportal kita akan sampai di sebuah tikungan dengan pohon tua disebelah kanan arah berangkat. Mungkin saat waktu menunjukkan sekitar pukul 2.15 kami beristirahat di bawah rindang pohon itu. tanpa disadari kita diketawain sama suara perempuan yang berkarakter berat , sontak saya kaget dan melihat raut wajah 7 teman yang lain, mimik wajah menunjukkan bingung, dan kaget , lantas saya buka omongan alias nylimur untuk memecah suasana "duduk iku suoro kodok" dan yang lain dengan nada nylimur juga bilang "iyo iku suoro kewan" , hahaha sebuah ketakutan yang terpendam . Wallahua'lam"
lalu langkah kami selalu diiringi oleh lambaian daun pohon pisang yang aneh, kenapa aku bisa bilang aneh, jika dilogika mungkin kalian mengira daun pohon ini tertiup angin, saya bisa tegaskan tidak, karena jika tertiup angin pasti sekeliling nya daun yg lain ikut juga bergerak tapi ini tidak hanya satu daun yang melambai. kalian kira hanya daun satu pohon yang bergerak
? saya tegaskan tidak, karena ditiap kira2 20 meter selalu ada satu daun yang melambai dari pohon pisang . aku penasaran lalu saat tim istirahat duduk aku melihat ke arah daun pisang itu , mencari tau, kenapa daun ini hnya satu yang melambai , dan daun yang lain dipohon yang sama tidak bergerak. lama mengamati ternyata jika diperhatikan daun pisang itu seperti tubuh pocongan yang lagi mengangguk angguk hahahah wallahualam
Sekitar sore hari kami sampai di antara pos kokopan dan pos pondokan. Bagian perjalanan paling berat via tretes. Diantara jajaran pepohonan yang indah 8 orang terpecah menjadi 2 tim , 4 dibelakang dan 4 di depan. Aku kebagian di tim belakang lalu saat jalan temenku bilang "cil onok patung wedok" dan saya membalas dengan agak marah , karena aku kira dia bercanda "cok menengo" . Lalu sebentar kami berjalan di "Hutan lali Jiwo Yang Ajaib Ini" dikejauhan sekitar 70 Meter ke depan , di posisi tebing kira2 berketinggian 20 Meter disana berdirilah sebuah "wanita" , ya sebuah wanita yang berpostur tegap dan tinggi berambut terurai panjang hingga ke lutut , memakai baju putih , posisi masih terang , aku kira hanya pohon yang dari jauh menyerupai wanita , karena aku tidak mau parno dikit2 gaib , dikit2 gaib. Semua selalu aku pikir dengan logika apakah ini sebuah lelembut atau hanya khayalan dari pikiran kita. Sempet membuktikan lalu sambil berjalan pelan aku menatap ke wanita itu dan aku di beri izin melihat wajahnya :) bukan seperti yang ada di film2 misteri cabul murahan , namun memang terlihat menakutkan , dengan wajah berwarna merah hati , namun wajahnya seperti penuh dengan goresan nanah yang seolah mengelupas. hahaha Wallahua'lam"
setelah melihat wanita itu tak bisa dipungkiri aku takut, serasa kaki lemas tak bisa berjalan namun aku tak mau berbagi ketakutan ini dengan yang lain, aku hanya diam tanpa bercerita apa2.
lalu kami berjalan terus dengan semangat yang semakin ciut karena trek yang cukup berat, entah mungkin karena ini hari mendekati suro kita jarang berpapasan dengan pendaki lain , serasa tim kami yang menjadi peserta ospek yang digembleng oleh alam. lalu kami berjalan masih terbagi menjadi 2 tim, aku bersama 3 yang lain berjalan kemudian ivan bicara
"cil onok plakat. dari jauh aku juga melihat itu sebuah plakat berwarna hijau bertulisan putih yang menempel disebuah pohon tua, pikirku itu adalah penunjuk jalan menuju pos pondokan agaknya kami berjalan agak cepat lalu saat tiba di tempat plakat itu berada sontak aku kaget ,kalo kata org jawa itu ketenggengen , seakan tak percaya bahwa jelas2 mata kepalaku melihat dari jauh plakat warna hijau kenyataannya dipohon itu tak ada plakat dan hanya sebuah pohon tua yang polos, begitu pula ivan yang melihat pertama kali plakat itu juga kaget, 2 yang hanya diam, hahahaha wallahualam
singkat cerita esok hari kita berangkat ke puncak arjuno setelah malamnya camp di pos pondokan, karena dis orientasi jalur akhirnya kami tak menginjak puncak, dan angan2 untuk melihat hijaunya lembah kidang , serta melewati pos pasar dieng yang punya nama asli pasar setan hanya bisa kami pendam dan akan diulangi lagi dilain kesempatan
setelah sempat kesasar akhirnya kita kembali lagi ke camp pondokan, ya tim kita sempet meneteskan air mata, termasuk saya sendiri. sebuah hal yang lumrah dikalangan pendaki. dari situ saya bisa belajar tak selalu kita harus mengejar puncak , dan pemenang sesungguhnya adalah orang yang tegar berdiri dari kegagalan. setelah menenangkan diri dan lalu kami pulang untuk kembali lagi ke surabaya dari pos pondokan berangkat sekitar jam 1 siang
singkat cerita akhirnya kami sampai di pos 2 kokopan jam 4 sore lalu kami masak2 karena logistik masih tersisa banyak. sekitar magrib ada sekitar 7 para motor crosser yang tiba di kokopan, , setelah crosser itu turun lagi kami juga turun ke pos 1 , selesai magrib kita mulai berjalan dan dari sinilah sesungguhnya mimpi buruk kita dimulai haahaha.
menuruni trek berbatu yang tersusun rapi dengan diselingi canda tawa suasana masih kondusif seperti biasa , hahahaha tawa kita yang ceria mengiringi derap langkah kegagalan puncak , gojlokan serta lawakan keluar dari mulut2 kami untuk memecah keheningan , sesekali kami duduk istirahat lalu join rokok dan bilang , sak batang yo.
entah ini kebetulan atau sudah direncanakan oleh para lelembut disini sebelum melewati pohon besar yang ada perempuan ketawa saat kita berangkat rokok kita habis. walhasil berjalan sambil kecemat kecemut lambe sepo . mungkin karena anak2 yang lain kelelahan akhirnya mereka duduk istirahat di sebelah pohon itu lagi persis seperti saat kita berangkat. dengan nada agak tegas saya bicara
"ayo rek ojok lungguh kene, ayo lanjut. tidak munafik saya trauma jika melihay pohon itu, suasana disitu bener2 gak nyaman. kami lanjut berjalan canda tawa yang tadi ceria perlahan mulai menghilang menjadi keheningan yang mencekam. aku berjalan terakhir sendiri dari tim, lalu masuk ke jalur kebun pisang . dari arah atas saya tiba2 ada suara orang loncat gedebuk. aku kaget melihat ke arah suara ternyata itu sebuah bidang miring, dan gak akan bisa ada benda atau orang loncat kesitu. aku benar2 takut, rasanya pengen cepet2 sampai di pos pendakian. merinding capek takut semua jadi satu.
tim sekarang benar2 diam, diam dalam ketakutan. saat itu febri sedang dalam kondisi sakit , dia aku suruh berjalan didepan sendiri bersama kakakku yang notabene adalah perawat, nah saat berjalan berdua mau melewati portal menurut cerita dari febri dan kakakku saat mengarahkan senter ke jalur ditengah jalan sudah ada pocong yang berdiri kaku . yang melihat hanya febri dan kakakku tapi 6 orang yang dibelakang yang tak tau apa yag terjadi didepan tanpa dikomando itu jalan cepat,.jalan lebih cepat, kemudian setengah lari, rasanya jantung ini pengen copot aja, ditawur oleh jin usil. ibarat berada di sarang preman.
tulisan ini takkan pernah selesai dan akan terus bertambah seiring berjalannya waktu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar